Sabtu, 01 Desember 2012

Upwelling dan Efeknya Terhadap Perairan Laut


Upwelling dan Efeknya Terhadap Perairan Laut
Upwelling merupakan Fenomena yang biasa terjadi di suatu wilayah perairan yang salah satunya ada di lautan atau samudra dan dipengaruhi oleh wind-driven motion (angin bergerak) yang kuat, dingin yang biasanya membawa massa air yang kaya akan nutrien ke arah permukaan laut. Selain itu upwelling juga dapat diartikan sebagai  fenomena naiknya massa air laut. Gerakan naiknya massa air ini juga diakibatnya karena adanya stratifikasi seperti lapisan yang memiliki perbedaan densitas pada setiap lapisannya karena dengan bertambahnya kedalaman perairan maka suhunya akan semakin turun dan densitas meningkat hal ini menimbulkan energi untuk menggerakkan massa air secara vertikal.
            Proses terjadinya upwelling
Fenomena upwelling  salah satunya dipengaruhi oleh angin dan adanya proses divergensi ekman. Angin yang mendorong lapisan air permukaan menyebabkan kekosongan di bagian atas, sehingga air yang berasal dari bawah menggantikan kekosongan yang berada di atas. Oleh karena itu suhu air yang dari dasar perairan belum terkena atmosfer sehingga suhu dan oksigennya masih rendah Di daerah upwelling biasanya banyak terdapat ikan karena arus ini mengandung larutan nutrien seperti nitrat dan fosfat, sehingga cenderung banyak mengandung fitoplankton sebagai pakan alami ikan.
            Beberapa jenis upwelling di lautan
1.      Upwelling jenis tetap
Upwelling yang terjadi sepanjang tahun.
2.      Upwelling jenis berkala
Terjadi hanya satu musim saja
3.      Upwelling jenis silih berganti
Terjadi secara bergantiandengan penenggelaman massa air (downwelling).
            Beberapa lautan yang diduga mempunyai hubngan erat dengan pola arus dan sirkulasi air yang berkembang dalam musim timur di Indonesia adalah Selat Makassar, selat Bali , teluk Bone,  laut Flores dan selaatan Jawa yang berskala besar.
            Upwelling di Indonesia
Fenomena upwelling yang terjadi di Indonesia anatara lain disebabkan oleh keadaan kontur dasar perairan laut Indonesia yang sangat beragam hal ini dipengaruhi karena adanya banyak pulau, penyempitan atau pelebaran selat dan juga banyak terdapatnya sill (dataran lembah yang mencuat) di mulut cekungan laut. Persebaran upwelling di Indonesia bagian timur seperti laut Banda, laut Arafura dan laut Maluku. Hal ini terjadin karena pada musim timur, massa air di lapisan atas perairan tersebut terdorong oleh angin timur sampai ke laut Jawa, laut Natuna dan laut Cina selatan. Kekosongan air dilapisan inilah yang diisi oleh massa  air dari babwah yang kaya nutrien. Pada saat terjadi upwelling, salinitas permukaan mencapai 34%0 dan temperatur berkisar antara 26,4oC-27,8oC, kadar plankton dan unsur-unsur fosfat, nitrat dan silikat naik dengan mencolok, sehingga tingkat produktivitas tinggi. Sebaliknya pada downwelling terjadi penenggelaman air permukaan sehingga menyebabkan produktivitas menurun.
            Dampak positif upwelling yang terjadi di perairan selatan Jawa-Bali pada bula agustus terjadi fenomena upwelling fitoplanktonnya sangat subur tetapi pada bulan febbruari terjadi penurunan rendah.
            Dua akibat utama yang patut diperhatikan pada fenomena upwelling :
1.      Upwelling membawa air yang dingin dan kaya nutrien dari lapisan dalam, yang mendukung pertumbuhan algae dan bloomng fitoplankton.
2.      Pada pergerakan hewan, upwelling dapat memindahkan larvanya jauh dari habitat asli, sehingga mengurangi harapan hidupnya.
Hubungan upwelling pada budidaya perairan sistem KJA di danau/waduk
Berbeda dengan di perairan terbuka seperti lautan, upwelling memberikan dampak negatif pada perairan danau, waduk dan tambak karena dapat mematikan kultivan yang ada di dalamnya. Hal ini disebabkan karena semakin banyaknya biota yang dibudidayakan di KJA sehingga  terjadi residu penumpukan sisa pakan buatan/pelet. Selain itu hasil metabolisme dari kultivan seperti urine dan feses. Terakumulasinya bahan-bahan organik terrsebut menyebabkan turunnya kadar oksigen dan meningkatnya kadar NH3, NO2 dan H2S yang pada konsentrasi tertentu dapat mematikan ikan. Kotoran ikan dapat menimbulkan deposisi yang meningkat di dasar perairan, selanjutnya mengakibatkan penurunan kadar oksigen di bagian dasar. Sedangkan Upwelling sendiri adalah proses naiknya air di dasar danau/waduk karena suhu air di permukaan lebih dingin daripada suhu di bawahnya. Fenomena upwelling merupakan gejala alam yang terjadi secara rutin, khususnya di awal musim penghujan saat cuaca mendung dimana intensitas cahaya matahri sangat rendah sehingga menyebabkan rendahnya laju fotosintesis dan rendahnya produksi oksigen (O2) dalam air. Pada kondisi hujan terus-menerus, suhu permukaan air rendah sehingga massa air di dasar danau/waduk lebih hangat yang berakibat massa air (baik berupa padatan maupun gas) di bawah itu naik ke atas yang membawa senyawa toksik (NH3 dan H2S) sehingga ikan-ikan sulit bernafas karena konsentrasi oksigennya minim yang mengakibatkan kematian massal ikan. Fenomena ini biasanya ditandai dengan mulai mabuk atau mengambangnya ikan di permukaan air, bahkan lebih parah lagi matinya ikan yang hidup di dasar perairan.
            Usaha untuk menanggulangi dampak upwelling yang sangat merugikan ini salah satunya dengan cara adanya penataan ruang perairan, pengaturan jumlah unit KJA yang beroperasi, teknik budidaya dan konstruksi KJA serta cara pemberian pakan akan sangat menentukan kelestarian lingkungan perairan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar